Panduan Lengkap MPASI

Menu makanan dan jadwal makanan pendamping ASI
Cara Efektif Untuk Mencegah Stunting Pada Anak dan Bayi Beserta Cara Identifikasi Stunting Menurut WHO
Mencegah Anak Stunting
Gambar Mencegah Anak Stunting

Stunting sekarang ini menjadi salah satu masalah pada anak dan bayi yang dihadapi oleh para orang tua. Sayangnya di Indonesia banyak yang kurang mengerti apa itu stunting.

Stunting adalah masalah gizi kronis yang terjadi pada anak atau bayi. Singkatnya, stunting sama dengan kurang gizi. Lalu apa akibat stunting?

Stunting Menurut WHO

Menurut WHO, stunting adalah lemahnya pertumbuhan dan perkembangan anak yang disebabkan oleh gizi buruk, infeksi atau sakit berulang kali, dan kurangnya stimulasi psikososial.

Definisi stunting menurut WHO yaitu ketika rasio tinggi dan bobot anak berada di bawah dua standar deviasi terhadap angka median yang telah ditetapkan oleh Standar Pertumbuhan Anak Menurut WHO (WHO Child Growth Standards) pada tahun 2006.

Cara Cek Anak Apakah Stunting Atau Tidak

Anak atau bayi laki-laki dapat dicek stunting atau tidaknya melalui tabel di bawah. Ketahui dulu tinggi dan berat badan bayi bunda.

Pada sisi kanan tabel terdapat kolom length (tinggi). Misalnya tinggi badan anak 60 cm maka berdasarkan tabel tersebut normal berat badannya (median) adalah 6 kg.

Kalau misal ternyata faktanya berat badan bayi adalah 5 kg, maka itu tergolong dalam -3 SD dalam tabel di bawah (di bawah dua standar deviasi. SD kepanjangannya standar deviasi). Artinya, bayi mengalami stunting.

Kalau untuk cek bayi perempuan mengalami stunting atau tidak. Gunakan tabel di bawah dengan metode yang sama dengan di atas.

Kalau berat badan anak masuk ke kolom -3 SD maka anak digolongkan sebagai stunting dan severe acute malnutrition (SAM) oleh WHO.

Kenapa stunting dan SAM menjadi dipermasalahkan? Karena anak atau bayi yang tergolong stunting dan SAM memiliki risiko tinggi meninggal dunia.

Cara Mencegah Bayi Stunting

Ada beberapa cara terintegrasi untuk mencegah stunting pada anak dan bayi.

Berbagai cara di bawah ini harus dilakukan secara konsisten dan sebaiknya dijadikan kebiasaan sehari-hari.

Jangan melewatkan satu cara pun untuk mengurangi risiko stunting pada anak dan bayi dengan sempurna.

Tingkatkan Gizi dan Nutrisi Makanan Saat Hamil

Pencegahan stunting bisa dimulai sejak hamil. Bunda harus menjaga nutrisi dan gizi buat si bayi dan juga untuk Bunda.

Konsumsi makanan yang bergizi dan memiliki nutrisi yang baik menjadi salah satu bentuk untuk mencegah bayi yang lahir dalam keadaan stunting atau kurang gizi.

Body Mass Index Sebagai Indikator

Berat badan ibu adalah indikator utama kesehatan dan pemenuhan gizi dan nutrisi saat hamil. Secara ilmiah berat badan tersebut tercermin dalam Body Mass Index (BMI).

Normalnya, perempuan memiliki BMI antara 18,5-24,9 kg/m2. Untuk keadaan BMI normal tersebut, ibu hamil disarankan meningkatkan berat badan sekitar 11,5-16 kg.

Kategori Body Mass Index Perempuan

Ada empat kategori BMI untuk perempuan sebelum hamil dan angka rekomendasi peningkatan berat badan yaitu sebagai berikut.

  • Underweight: BMI kurang dari 18,5 kg/m2, disarankan untuk menaikkan berat badan sebesar 13-18 kg.
  • Normal: BMI antara 18,5-24,9 kg/m2, disarankan untuk menaikkan berat badan sebesar 11,5-16 kg.
  • Overweight: BMI antara 25-29,9 kg/m2, disarankan untuk menaikkan berat badan sebesar 7-11,5 kg.
  • Obesitas: BMI sebesar 30 kg/m2 atau lebih, disarankan untuk menaikkan berat badan sebesar 5-9 kg selama hamil.

Cara untuk menghitung BMI dapat dilakukan dengan BMI calculator yang sudah dibuat oleh Canadian Diabetes Association.

Hindari Kelahiran Prematur

Menurut Dr. dr. Damayanti R. Sjarif, Sp.A(K) stunting dapat berawal dari bayi yang lahir prematur atau berat badan lahir rendah (BBLR).

Dengan memenuhi kebutuhan gizi dan nutrisi selama hamil kelahiran prematur dapat dihindari.

Meski tidak semua kelahiran prematur disebabkan nutrisi dan gizi. Namun, permasalahan gizi dan nutrisi selama hamil menjadi salah satu penyebab kelahiran prematur.

Hal yang utama adalah cegah kelahiran prematur. Hindari jatuh, hindari stres, hindari kegiatan fisik berat, hindari angkat beban, hindari gerak berlebih, dan makan makanan bergizi,

Kenapa Bayi Yang Lahir Prematur Berisiko Stunting?

Bayi yang lahir prematur harus berjuang lebih banyak untuk menerima asupan nutrisi dari luar, sayangnya hanya bisa susu formula dan ASI.

Selain itu keadaan tubuhnya pun belum siap. Contohnya, paru-parunya belum siap untuk menghirup udara, kekebalan tubuhnya masih sangat rentan terhadap virus, dan rentan terhadap perubahan suhu.

Sementara bayi yang lahirnya normal memanfaatkan waktunya dalam rahim hanya untuk menerima gizi yang dikonsumsi oleh ibunya pada saat hamil.

Tubuhnya pun tidak terpapar langsung oleh kondisi dunia luar seperti polusi, angin, dan suhu.

Konsumsi Makanan Bernutrisi Pasca Melahirkan

Bukan hanya ketika hamil saja Bunda harus memikirkan makanan untuk diri sendiri, setelah melahirkan Bunda juga harus memikirkan nutrisi dan juga gizi yang Bunda konsumsi.

Hal ini berhubungan dengan kualitas ASI untuk bayi. Jangan sembarangan ketika mengkonsumsi makanan.

Berikut hal-hal yang harus dilakukan dan dihindari.

  • Hindari makanan pedas
  • Hindari makanan yang mengandung penyedap rasa atau micin
  • Hindari makanan yang dapat mengakibatkan alergi
  • Hindari minuman beralkohol
  • Hindari minuman yang mengandung gula berlebih dan mengandung pemanis buatan
  • Hindari minuman bersoda dan artifisial seperti jus konsentrat, minuman sachetan, dan sejenisnya
  • Makan makanan yang banyak mengandung protein dan folat
  • Minum susu khusus untuk ibu hamil dan menyusui agar kualitas ASI terjaga
  • Minum multivitamin sesuai rekomendasi dokter
  • Banyak makan sayur dan minum jus torbangun agar meningkatkan kuantitas ASI
  • Jaga agar jadwal makan teratur

Jagalah Kebersihan Bayi

Menjaga kebersihan bayi menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga bayi dari kemungkinan stunting.

Bunda harus sering membersihkan badan bayi setelah mandi dan mengganti pakaian bayi setelah mengganti popok. Hal ini untuk mencegah adanya bakteri yang muncul di badan si kecil.

Berikut daftar kebersihan bayi yang harus dikelola:

  • Ganti popok bayi ketika penuh, bukan hanya ketika BAB.
  • Bersihkan mulut bayi sebelum mandi dengan kasa steril.
  • Mandikan bayi 2 kali sehari.
  • Cebok dan bersihkan pantat dan kelamin bayi setelah BAB dengan benar.
  • Gunting kuku bayi secara berkala.
  • Bersihkan belek bayi.

Jagalah Kebersihan dan Kesehatan Lingkungan Sekitar

Menjaga kebersihan lingkungan sekitar bisa menjadi salah satu cara agar anak dan bayi tidak mengalami stunting.

Menjaga kebersihan lingkungan menghindarkan anak dari potensi t\erserang penyakit baik yang disebabkan oleh virus atau radikal bebas. Dapat pula menjaga kualitas ASI agar tetap sempurna.

Kesehatan lingkungan terbagi dua yaitu kesehatan lingkungan fisik dan non-fisik.

Kesehatan Lingkungan Fisik

Menjaga kesehatan lingkungan fisik antara lain adalah sebagai berikut.

  • Hindari merokok dan perokok.
  • Hindari lingkungan yang kotor.
  • Jaga alat-alat makan dan kondisi tempat tinggal agar selalu bersih.
  • Bersihkan secara benar setelah buang air kecil atau air besar untuk menghindari dari penyakit infeksi saluran kemih.
  • Ganti sprei, sarung bantal, dan guling seminggu sekali.
  • Bereskan mainan bayi atau anak setelah main supaya tidak menimbulkan kecelakaan.

Kesehatan Lingkungan Non-Fisik

Menjaga kesehatan lingkungan non-fisik akan berpengaruh tidak langsung terhadap bayi. Hal yang dijaga adalah kesehatan non-fisik sang ibu agar selalu menghasilkan kualitas ASI yang sempurna.

  • Gunakan waktu luang ketika bayi tidur untuk istirahat atau tidur dan jangan digunakan untuk bermain Instagram terlalu lama karena dapat memengaruhi kondisi mental ibu. Instagram atau sosial media lain dapat memengaruhi mental ibu secara buruk apabila kontennya dapat membangkitkan emosi dan memengaruhi kualitas dan kuantitas ASI.
  • Hindari pertengkaran dengan suami atau anggota keluarga lainnya.
  • Hindari stres karena suatu hal kecil misalnya sirik sama teman atau tetangga.

Lingkungan non-fisik yang tidak dijaga dapat mengeluarkan efek negatif contohnya:

  • Gangguan tidur
  • Sulit konsentrasi
  • Mudah marah
  • Lelah tetapi tidak bisa tidur
  • Nafsu makan berkurang

Kebersihan Makanan Bayi

Jangan lupa pula untuk memperhatikan makanan MPASI yang digunakan. Perhatikan kebersihan dari makanan-makanan tersebut.

Bunda sebaiknya membersihkan makanan seperti sayuran dan buah dengan bersih agar terbebas dari telur cacing, telur lalat, dan ulat.

Cara terbaiknya adalah tidak sekedar mencuci tetapi juga merendam sayuran dan buah agar ulat dan kotorannya mengambang dan dapat dibuang.

Seperti kita ketahui bersama bahwa sayuran dan buah juga banyak terpapar pupuk kimia, terutama urea, dan pestisida. Ketika terkonsumsi dapat berbahaya bagi bayi dan anak.

Oleh karenanya sikap disiplin dalam menjaga kebersihan perlu dipupuk benar-benar.

Pantau Perkembangan Bayi dan Anak di Dokter Anak

Dokter anak dapat mengidentifikasi dengan jelas apakah bayi atau anak tumbuh stunting dalam perkembangannya.

Sebenarnya stunting atau tidak bisa dilihat dari usia, tinggi, dan berat bayi. Namun, dokter paling mengerti penyebab kenapa anak bisa stunting. Daripada ibu menerka-nerka lebih baik serahkan pada dokter yang telah menangani ratusan anak.

Jangan merisikokan investasi jangka panjang yaitu kesehatan dan kecerdasan anak. Konsultasikan ke dokter secara rutin tentang perkembangan anak.

Referensi

Artikel di atas belum ada tanggapan. Jadilah yang pertama memberikan pendapat. Pendapat bunda akan sangat berharga bagi yang lain.

* Wajib diisi.